cerpen

Author: haridoyo  //  Category: Uncategorized

CERPEN DINA

Dina Oktaviani

SMAN 6

Pagi.di sekolah, sekitar pukul 07.15, lapangan dipenuhi oleh murid-murid yang berdiri

dibawah teriknya matahari mengangkat tangannya ke alis melihat bendera yang sedang dinaikkan perlahan yang diiringi lagu “INDONESIA RAYA”. Beberapa Siswa yang ditunjuk untuk menyanyi. Menyanyi dengan merdu. Mereka menyanyi dengan di pandu oleh Dirgent yang berada didepan mereka, tampaknya Dirgent itu melakukan tugasnya dengan baik. Mereka Tim yang kompak. Suasana di lapangan saat ini, terkesan ramai, sama seperti hari-hari upacara sebelumnya. Semua siswa yang ada, tampak tak sabar menanti-nanti berakhirnya upacara. Ada yang menghentak-hentakkan kakinya tanda lelah sudah lama menunggu, ada yang mengobrol untuk melepas kebosanan waktu upacara yang selalu diadakan setiap hari senin, bahkan ada pula siswa yang ada di barisan belakang dengan santainya duduk jongkok. Terkadang disaat upacara dua sampai tiga orang siswa tiba-tiba pingsan dan segera di angkut oleh guru yang menjaga di setiap belakang barisan siswa perkelas, mungkin karena siswa itu tidak sarapan atau mengidap penyakit atau juga siswa tersebut hanya berpura-pura untuk memotong jatah waktu berdirinya. Hal itu membuat para guru dan siswa yang lain langsung mengedarkan pandangan ke tempat terjadinya peristiwa itu. Rasanya tidak terbayang, bagaimana perasaan para Pahlawan kita yang rela mengorbankan harta dan nyawanya sampai titik darah penghabisan untuk membela tanah air tercinta melihat tingkah anak muda Zaman sekarang yang kurang mempunyai rasa hormat setiap diadakan upacara, padahal upacara yang dilakukan untuk mengingat jasa para pahlawan yang dilakukan setiap hari senin hanya berlangsung setengah jam. Dan yang dilakukan siswa yang bukan ditunjuk untuk menjadi petugas upacara hanya cukup berdiri dengan tenang mengikuti upacara yang sedang berlangsung. Untung saja para guru tetap mengikuti upacara dengan khidmat walaupun para siswa ingin lekas beranjak dari lapangan. Sama dengan Anggi yang sedari tadi gelisah menanti usainya upacara. “ duuh, lama banget sih upacaranya tanganku pegel nih!” keluh Anggi dengan mimik cemberut. Peluh bercucuran di keningnya. “sabar Gi, sebentar lagi juga selesai.” Hibur Indy. Anggi tidak menggubris hiburan dari Indy sambil menghentak-hentakkan kakinya tanda tak sabar. “masing-masing pemimpin upacara membubarkan barisannya!!!” suara Protokol upacara menggema.

“bubar barisan jalan!!!” perintah Protokol di ikuti masing-masing pemimpin upacara.

Akhirnya permohonan Anggi terkabul. “fuuh, akhirnya selesai juga” Anggi menghembuskan nafas lega, seakan-akan beban yang ada dipundaknya hilang. Melihat Anggi senang Indy pun ikut senang dibuatnya. “kubilang juga apa, sabaran dikit. Sekarang selesai juga kan.” Ujar Indy seraya menyunggingkan senyum ke Anggi.

Anggi adalah gadis yang periang, dia cerdas juga cantik, rambutnya pendek, kulitnya berwarna sawo matang, tubuhnya tidak terlalu tinggi walaupun begitu dia jago bermain Basket. Anggi cewek yang tomboy mungkin karena itulah dia jadi jago Basket, karena sebagian besar yang jago Basket di sekolahnya cowok dan Anggi akrab dengan cowok-cowok jago Basket yang ada di sekolah. Wataknya juga baik dikala ada yang membutuhkan bantuan dia tidak segan-segan membantu. Ia selalu ingin berusaha menjadi berguna bagi orang lain. Itulah sebabnya Anggi punya banyak teman. Salah satunya adalah Indy, Indy adalah teman baik Anggi, tubuhnya tinggi dan kurus, kulitnya putih, wajahnya cantik ditambah lesung pipi disebelah kanan pipinya yang menambah paras Indy semakin cantik diantara gadis-gadis lain di kelasnya. Selesai upacara siswa-siswa berhambur ke kelas masing-masing, Anggi dan Indy beriringan masuk kelas. Sesampai di kelas mereka langsung duduk dikursi deretan nomor tiga dari depan sebelah kiri paling ujung. “habis ini pelajaran apa?” Tanya Anggi seraya mengipas-ngipaskan topinya. “Fisika” jawab Indy. “ oh… Fisika,” sambil melirik ke belakang melihat teman-temannya “Nina, Sheila, Asti ke kantin yuk.” Ajak Anggi. “yuk, aku juga laper nih” ajakan Anggi di iyakan oleh teman-temannya.” Kamu nggak ikut In? ajak Anggi pada Indy, yang dijawab Indy dengan gelengan kepala.

Anggi, Nina, Sheila dan Asti beriringan menuju kantin. “mbak, saya pesan es jeruk, eh kalian apa?” Anggi memesan duluan. “mmm… aku fanta” jawab Nina sambil menyangga dagunya. “aku pop ice cokelat aja deh” sambung Sheila yang sedari tadi mengutak-atik hp-nya. “aku coca cola” ujar Asti dengan posisi duduk yang rapi sambil melipat tanganya. Sejenak Anggi mengedarkan pandangan ke dagangan yang dijual seorang wanita yang dipanggilnya “mba” tadi. Dibenaknya terbesit ingin membeli sesuatu. “eh, kalian nggak ada yang pesan makanan kah? Usul Anggi yang sedari tadi masih memesan minuman. “kayaknya aku nggak deh, soalnya aku udah sarapan di rumah,” jawab Asti mewakili jawaban teman-temannya. “oh…” ucap Anggi setengah berbisik, niatnya terurung oleh jawaban cewek yang tidak pernah ketinggalan make up ini. “ngomong-ngomong ini jam pelajarannya siapa?” Nina yang sedari tadi diam akhirnya membuka percakapan. “Pak Dani emang kenapa?” pertanyaan Nina dijawab oleh Anggi yang ikut duduk setelah memesan minuman. Nina yang menyedot minumannya mendadak terbatuk-batuk mendengar jawaban Anggi. “ya, ampun kenapa nggak bilang dari tadiii, kita bisa dihukum tahu!!!” nada suara Nina terdengar tidak enak. Alis Anggi berkerut mendengar ucapan Nina. “Bodo amat, nggak papa lagi” jawab Anggi acuh tak acuh. “Gi kita balik yuk” dari nada bicara dan ekspresi Nina tersirat perasaan takut. Mendengar permintaan Nina, akhirnya Anggi luluh. “ntar, habisin dulu minumnya” ujar Anggi seraya menyeruput minumannya dan bangkit kembali ke kelas diikuti oleh Nina, Sheila dan Asti. Selama perjalanan kembali ke kelas, Nina tidak berhenti-berhentinya mengeluh. “aduh Anggi, aku takut banget nih…, aku yakin kita semua pasti kena hukum sama Pak kumis itu!,” “kamu kenapa sih, kok takut banget?, biasa aja lagi, kan biasanya kita emang sering dimarahin atau dihukum sama bapaknya. So, nyantai aja kali, ya nggak Gi.” Hibur Asti seraya melirik Anggi. “ya iyalah takut!, kalo tiba-tiba bapaknya udah benci banget sama kita, trus orang tua kita dipanggil ke sekolah gimana?,” “kalo aku sih bodo amat, mau mamaku dipanggil kesekolah kek, kakakku kek, nenekku kek sekalian, emang aku pikirin?” ucap Asti ketus. “ya kalo kamu sih kebal aja dimarahin sama Pak Dani, kamu kan paling sering ditegur, Ya… karena solekanmu itu. Iya kan Aaaas….” Sindir Nina. “alah!, bilang aja kamu sirik sama aku, ya kan?!” ternyata ucapan Nina menyinggung Asti. “haaah! Udah-udah-udah, nggak usah berantem gitu napa!” Sheila yang sedari tadi diam akhirnya ambil andil dari percekcokan Nina dan Asti. “ssst!, diam kita udah sampai didepan kelas nih!” ucap Anggi setengah berbisik.

Sesampai di depan kelas mereka disambut oleh Pak Dani yang berdiri sambil melotot dan mengacak pinggang.

“Ups, tuh kan Gi, kita bakalan kena hukum” keluh Nina sambil menyenggol-nyenggol tangan Anggi.

“kalian dari mana aja!” bentak Pak Dani. Anggi, Nina, Sheila dan Asti tersentak kaget.mendengar suara Pak Dani yang menggelegar. “da…dari kantin Pak” jawab Anggi terbata-bata. “APA!!! Mendengar jawaban Anggi, Pak Dani semakin murka, mukanya merah dan giginya gemerutukan. “kalian tahu kan ini bukan jam istirahat!”

“i..iya Pak kami tahu” jawab Anggi sekenanya. Dada Pak Dani naik turun menahan marah. “sekarang kalian lari keliling lapangan tiga kali dan dilanjutkan berdiri menghadap tiang bendera sampai jam pelajaran saya habis!.” Anggi, Nani, Sheila dan Asti berjalan beriringan ke lapangan. “ayo cepat lari!” teriak Pak Dani yang belum beranjak dari tempatnya. Mereka mematuhi perintah Pak Dani. setelah berlari tiga putaran, dahaga yang hilang muncul kembali. “hadap bendera dan jangan berani-berani jongkok ataupun duduk!” Pak Dani meneriaki mereka dari depan kelas. Aksi mereka menjadi bahan tertawaan anak-anak. “hyaah berpanas-panasan lagi deh” ujar Anggi dengan wajah yang murung. “sampai kapan kita berdiri di sini? Uuuh capek” lanjut Anggi yang sedari tadi tak berhenti-berhenti mengeluh. Mendengar keluhan Anggi, Sheila jadi emosi dibuatnya. “dasar! Kenapa sih Pak Dani itu! Sentimen banget sih sama kita!? Ya nggak.” Ujar Sheila mencari dukungan dari teman-temannya. “iya tuh, padahal kita cuman terlambat sepuluh menit, gak sampe satu jam. Mang apa salahnya kita ke kantin sebentar, namanya aja habis upacara, kan haus” dukung Asti. “mana sampai pelajarannya habis lagi” kembali Sheila buka suara. “udah deh teman-teman lagipula kan ini salah kita, mau diapain lagi..” suara Nina terdengar lirih, ia tidak mempermasalahkan hukuman ini lagi. Anggi tidak menggubris pendapat teman-temannya, dari tadi ia sibuk dengan keluhannya. “duuh panas,” keluh Anggi sambil mengusap keringat di keningnya. Beberapa saat suasana hening, waktu terasa berputar sangat lambat bagi mereka. Dan panas matahari semakin menyengat kulit. Peluh terus mengucur di kening mereka. Akhirnya Anggi tak tahan lagi, dia mencetuskan ide konyol yang penuh resiko yang kemungkinan berhasilnya sangat kecil yang apabila ada kesalahan fatal akibatnya. “hmm Asti kamu pura-pura pingsan gih,” “pingsan? gila kamu Gi! Kalo kita ketahuan gimana?” ujar Nina mengomentari. “ya daripada kita mesti nahanin panas disini?” jelas Anggi. “iya nih, nanti kulit aku item lagi. Iiih, nggak banget deh…” pendapat Anggi didukung Asti. “ya udah kalo gitu cepetan!” perintah Anggi. “oh nggak Gi, kalo aku pura-pura pingsan, aku pasti ketawa, gak!” Asti menjelaskan kata-katanya dengan menggeleng-gelengkan kepala dan mengibas-ngibaskan tangannya ke kiri dan ke kanan. “Aku gak bisa tahan” ide Anggi ditolak mentah-mentah. “yee!!! Bisanya ngomong aja!” celetuk Nina. Kali ini Asti tidak menentang ejekan Nina.

“kamu aja Nin” Anggi melanjutkan usahanya. “nggak, nggak Gi, kamu tahu sendiri kan? aku paling takut sama Pak Dani.” Nina sama halnya dengan Asti. menolak ide gila Anggi. “Tetapi Anggi belum stop sampai disini dia masih aja mempertahankan idenya. “kalo kamu Sheil?” ini merupakan usaha terakhir Anggi. “Oke deh” Ide Anggi akhirnya terwujud. Sheila memenuhi perintah Anggi, diapun bersiap-siap menjatuhkan diri. “eh tunggu-tunggu, kamu serius Sheil?, ini Pak Dani!, kamu pernah liat sendiri kan, waktu itu ada yang pura-pura pingsan begini waktu upacara?. Dan kamu tahu kan Sheil? Apa yang Pak Dani lakuin saat tahu kalo anak itu pura-pura pingsan???” Nina menghambat langkah Sheila seraya memukul pipinya pelan-memperagakan tindakan Pak Dani. “nggak papa kok Nin, aku pasti bisa!” ujarnya mantap. Sheila pun menjatuhkn tubuhnya ke Anggi.

“eh..eh.. gimana nih, Pak..! Pak..! Pak Dani Sheila pingsan!” Anggi berteriak –teriak. Suara Anggi terdengar sampai kelasnya. Pak Dani yang sibuk menerangkan di depan kelas tersentak melihat insident itu terjadi. “hah, aduh gawat nih” Pak Dani berlari meninggalkan kelas-menghampiri mereka. “duh…, ada apa dengan Sheila?, apa dia sakit?” nada suara Pak Dani terkesan panik. “yes!, usahaku berhasil” ujar Anggi dalam hati sambil melingkarkan tanganya membentuk huruf “o” ke Asti yang ada di depannya. “em, anu Pak si Sheila emang suka pingsan kalo kelamaan di bawah sinar matahari.” Ujar Anggi bersandiwara. “oh gitu” Pak Dani tertipu. “ayo kita bawa ke UKS.” Pak Dani mengangkat Sheila. “tolong kalian jaga Sheila, bapak mau menyelesaikan tugas yang barusan bapak tinggalkan. Oke” Pak Dani yang killer berubah jadi lemah lembut. Dia pun meninggalkan mereka.

“Sheil, Sheil buruan bangun Pak Dani udah pergi” Anggi mengguncang-guncang bahu Sheila yang terbaring di tempat tidur. Sheila membuka mata perlahan “Pak Dani udah pergi?, oh ya udah kalo gitu aku tidur aja dulu sebentar” “yee! Bangun-bangun!” Teman-teman Sheila tak sependapat dengannya. “ada-ada aja deh kamu Sheil,” kata Nina tertawa terbahak-bahak. “actingmu hebat Sheil, lain kali ajarin kita-kita ya, ha..ha..ha.., kita lama-lama aja di sini, sampai jam pelajarannya habis” Ujar Anggi

***

“eh udah abis tuh jam pelajarannya Pak Dani, yuk balik ke kelas” kata Asti

Anggi, Sheila, Nina dan Asti beriringan ke kelas.

Sesampai di kelas mereka berempat mendapat cemoohan dari dua cowok yang menjadi musuh bebuyutan mereka di tahun ajaran baru ini. “he…he.., habis dihukum ya..” Goda Donny, Anggi. Godaan Donny tidak digubris oleh mereka berempat, mereka duduk di kursi masing-masing. “heran deh ya, masa’ Pak Dani yang killer itu mau percaya sama akal-akalan cewek-cewek kaya mereka, ya nggak Ben?” koar Donny dengan menatap sinis ke arah mereka. “hah, iya nih, kok mau-maunya ya, dikibulin sama mereka?, nggak jera-jera apa tuh orang tua, udah berkali-kali dikibulin sama Anggi Ce es, eh masih aja percaya, aku nggak abis pikir, jangan-jangan Pak Dani suka sama salah satu dari mereka kali ya.., ha..ha..ha…!, aduh Pak ingat istri sama anak di rumah, hahaha!” Benny dan Donny tertawa terbahak-bahak, sambil berkompak bersama.

Kesabaran Anggi habis, ia bangkit dari tempat duduknya-menghampiri Donny dan Benny. “heh! Jaga mulut kalian bedua ya, kalian nggak usah cari masalah sama kita, kalian nggak usah ikut campur urusan kita, dan kita nggak punya masalah apa-apa sama kalian. So, kalian nggak usah banyak mulut!” kata Anggi berapi-api seraya menunjuk-nunjuk telunjuk jarinya ke depan muka Donny dan Benny bergantian.

“Kalo kita mau mau nyampurin urusan kalian emangnya kenapa? Marah? Nggak suka?”

Donny semakin membuat panas suasana. Mendengar ucapan Donny kemarahan Anggi tak terbendung lagi. Gubrak!!! Dada Donny didorong Anggi dengan kerasnya, Donny pun jatuh dari meja yang ia duduki ke kursi di bawahnya. “heh, kamu udah aku peringati berkali-kali! Jangan pernah campurin urusan aku sama teman-temanku! Mulai sekarang mulut kamu yang kaya comberan itu akan kubuat jadi bonyok!” Buk! buk! buk! Anggi memukul berkali-kali wajah dan mulut Donny, Donny pun tak kuasa melawan karena tubuhnya ditindis oleh Anggi! Melihat aksi Anggi dan Donny seisi kelas jadi ribut.

“akh, lepasin. Ukh, AAA!!, Ben! bantuin aku! Cepetan!” Donny meminta bantuan Benny tetapi Benny nggak kuasa membantu Donny karena dia ditahan oleh Nina, Sheila dan Asti. “Sorry Bon, aku nggak bisa bantuin kamu!. ekh! Heh kalian cewek-cewek lepasin aku, atau aku akan…,” “atau apa? Hah?, kamu mau mukul kita? Pukul aja kalo kamu bisa, hmm!” Sheila memelintir tangan Benny semakin kuat. “aaah..!” wajah Benny memerah kesakitan. Seluruh siswa yang ada dikelas membuat lingkaran untuk melihat tontonan gratis “ayo! Anggi, ayo! Anggi” seluruh cewek yang ada di kelas mendukung Anggi. “ayo Don!, balas pukulan Anggi! Bencong kamu, kalah sama cewek!” ucap salah satu cowok. “woy, ayo pasang! Pasang!, kamu pilih siapa?” ujar salah satu cowok yang lagaknya seperti bandar judi. “hey, minggir-minggir!, aku pilih Anggi, Anggi pasti menang!,” “eh! Belum tentu! Yang menang pasti Donny, Donny kan Cowok nggak mungkin dia kalah sama Anggi!,” “eh tapi ini cewek bukan sembarang cewek, ini mah, adiknya Lady Croft.” Perkelahian menjadi ajang taruhan bagi cowok-cowok ini. “WOI!!! BERHENTI!!!” suara Pak Rama wali kelas mereka menggema. Semua siswa yang membuat lingkaran menghambur ke tempat duduk masing-masing setelah melihat Pak Rama yang ada di depan pintu. Tetapi siswa yang membuat arena taruhan tadi masih saja menjalankan aktifitas mereka. Pak Rama yang melihat ulah mereka menjadi semakin geram ditambah lagi pertarungan antara dua kubu ini belum selesai. Sesaat kemudian Pak Rama mengambil sapu yang ada dibelakang pintu yang menganga dan memukuli siswa yang melakukan adegan taruhan tadi. Mata Pak Rama melotot, mukanya merah dan napasnya naik turun

“Anggi, Nina, Sheila, Asti, Bonny dan Donny kalian ikut ke ruang saya!” Pak Rama menggiring mereka berenam keruangannya.

***

Diruangan yang bercat putih dan tertempel lukisan presiden dan wakil presiden ini dipenuhi oleh piala-piala hasil prestasi siswanya. Serta beberapa macam arsip-arsip penting yang ada dimeja besar berwarna hitam yang terbuat dari kayu jati. Setelah Pak Rama duduk di kursinya, iapun membuka suara setelah hening sesaat meredakan emosinya.

“kalian udah saya beritahu berkali-kali, jangan pernah buat keributan!.” suasana hening sejenak, hinnga akhirnya Pak Rama melanjutkan omelannya. “saya sebagai wali kelas x-3, malu sekali! Saya sudah banyak dapat laporan dari guru-guru yang lain kalau kelas x-3 paling ributlah, kelas yang paling suka bikin onarlah, inilah, itulah, saya sudah muak!” Bruk!, kemarahan Pak Rama memuncak, dia memukul meja yang ada di depannya. Mereka berenam tersentak. “kamu Anggi kenapa kamu berkelahi!,” “Donny dan Benny yang mulai duluan”

Mendengar keterangan Anggi, Donny langsung memotong dengan kasarnya. “Bohong Pak!,”

“diam! Saya tidak tanya pendapat kamu!” Donny tertunduk mendapat bentakan Pak Rama, tatapannya sinis melirik Anggi yang berdiri disampingnya. “lanjutkan Anggi!” “mm, begini pak, tadinya saya……

***

Anggi, Sheila, Nina dan Asti beriringan ke kelas. Melihat mereka muncul di depan kelas, Indy melihat kea rah Anggi yang wajahnya bergembira bercampur tegang. Anggi, duduk disamping Indy. “aduh Anggi, kenapa sih sikap kamu nggak bisa berubah? Emangnya kamu nggak bosan apa jadi tukang ribut di kelas?” ucap Indy. “untuk apa, aku malu? Jelas-jelas dia duluan yang mulai lagipula aku nggak salah kan sama dia?” jawab Anggi cuek. “ya, kamu memang nggak ada salah sama mereka, tapi masalah bolos ke kantin? Apa itu bukan salah kamu? kan udah aku bilang berkali-kali Gi? kenapa sih kamu susah banget dibilangin!” Indy mengomentari berkali-kali.

“dan juga udah aku bilangin berkali-kali sama kamu bahwa aku punya penyakit mag tingkat tinggi, kalo aku telat makan dikit aja, magku bakalan kambuh, kamu suka ya, liat aku sakit! Hah?.” Nada suara Anggi terkesan nggak enak didengar. “bu, bukan gitu Gi, aku tuh sayang sama kamu, aku nggak mau kamu jadi bahan bicaraan guru-guru dan teman-teman kalo kamu itu sebenarnya….” Indy menggantung kalimatnya.

“sebenarnya apa In? Trouble Maker gitu? terserah deh orang lain mau beranggapan apa sama aku, aku nggak mau ambil pusing! Aku udah berusaha sebisa mungkin untuk jadi cewek baik-baik In, tapi itu tuh nggak semudah yang kamu bayangin, ini terlalu susah buat aku” ucap Anggi lirih.

“nggak papa kok Gi, aku yakin kamu pasti bisa, aku juga akan selalu bantuin kamu kalo kamu membutuhkan pertolongan, karena kamu kan my best friend” hibur Indy seraya melingkarkan tangannya di bahu Anggi dan memeluknya erat.

Indy berkata dalam hati “Anggi, aku sayang kamu jangan pernah pergi dariku”

***

Pagi ini pelajaran olahraga sedang berlangsung. Pak Yusuf yang mengajar pelajaran ini. Menurut sebagian besar cewek di sekolah ini, Pak Yusuf adalah lelaki yang tampan. Dadanya yang bidang, tubuhnya yang kekar, kulitnya yang putih bersih dan rambutnya yang hitam legam disisir ke kiri serta tatapan matanya yang membuat siapa saja yang melihat terpana dibuatnya. Menjadikan Pak Yusuf salah satu guru favorit dikalangan siswa maupun para guru wanita yang mengajar disekolah ini.

“ya, sebelumnya kita mulai pemanasan lebih dahulu, keliling lapangan tiga kali, ya! Mulai! Priiit! Pak Yusuf meniup peluitnya. Semua siswa pun mengikuti perintahnya.

Setelah satu putaran tiba-tiba. “hah,hah, aduuh!.” Indy merintih-rintih sambil menekan dadanya. Melihat hal itu Anggi berhenti dari larinya dan menunggu Indy yang membuat macet putaran lari yang dilakukan siswa. “Indy!, Indy..!, kamu kenapa?,” “ah.., ah…, aku nggak kuat lagi Gi” jawab Indy dengan napas memburu. Pak Yusuf yang melihat kemacetan pada putaran lari siswanya yang disebabkan oleh Indy, langsung menghampirinya. “ada apa ini,” “ini Pak, Indy mendadak dadanya kesakitan” ucap Anggi bingung. “ya, udah kalo gitu kamu temanin Indy ke UKS” perintah Pak Yusuf pada Anggi. “oh, nggak usah Pak, saya nggak papa kok, cuman kecapekan aja, sebentar juga sembuh” tolak Indy. “ya udah kalo kamu nggak mau ke UKS, lebih baik kamu istirahat di bawah pohon itu aja” ujar Pak Yusuf seraya menunjuk kearah pohon besar yang ada di depan kelas XII IPA 2. Anggi dan Pak Yusuf menggiring Indy ke bawah pohon. “ya, udah kamu istirahat di sini aja, bapak mau melanjutkan pelajaran” ucap Pak Yusuf dan balik ke lapangan. “In, kamu kenapa sih, setiap olahraga, pasti langsung kecapekan gitu, padahal kan baru satu putaran, masa’ capeknya kaya abis lari lima putaran?, kamu sakit?” tanya Anggi menyelidik. “ah nggak kok Gi, aku nggak kenapa-napa, ku cuman kecapekan soalnya aku jarang olahraga, wajar aja kan?” jawab Indy sambil menyenderkan kepalanya dibatang pohon, sesekali Indy memejamkan matanya, peluh pun terus mengalir di dahinya. “serius?” Anggi terus menyelidik. Pertanyaan Anggi hanya dijawab dengan anggukan kecil. “ eh, anak-anak pada main basket tuh, In ku tinggal dulu ya, aku mau gabung sama mereka, kamu nggak papa kan?” dan sekali lagi jawaban Anggi hanya dijawab dengan anggukan kecil. Anggi pergi meninggalkan Indy. Pak Yusuf membuat dua tim, setelah pembagian tim, permainan pun dimulai.

“siaaap! Mulai!” Pak Yusuf berteriak seraya melambungkan bola ke udara. Bola pun melambung tinggi di udara, dengan cepat Anggi meraih bola tersebut, dan men-driblenya kearah ring dan….

“yeeh, masuk..!!! teriak Anggi sambil melompat-lompat kegirangan, tim Anggi pun sama histerisnya dengannya. Indy yang melihat aksi Anggi dari kejauhan, tersenyum bangga seraya mengacungkan kedua jempolnya pada Anggi. Anggi yang melihat respon Indy, membalasnya dengan mendadah-dadahkan tangannya.

***

Di kantin sekolah yang penuh dengan para siswa yang berebut membeli sesuatu yang mereka inginkan.

“wah!!, hebat kamu Gi!” puji Indy sambil menyeruput minumannya. Anggi hanya tersenyum mendengar pujian dari Indy, dan melanjutkan memakan baksonya.

“Gi, kamu kok jago banget sih, main basket, emang rahasianya apa?”

“ya, aku main-main aja setiap sore bareng sama teman-teman dekat rumah, kan di depan rumahku ada lapangan basket.”

“oh, gitu..,heran deh padahal kamu kan pendek. Hahaha!”

Mendengar ejekan Indy, wajah Anggi berubah masam. “uh! Bilang aja kalo kamu itu ngiri sama aku, kamu kan nggak bisa main basket, wee!” balas Anggi sambil menjulurkan lidahnya.

“kita balik ke kelas yuk” ajak Anggi pada Indy, mereka beriringan pergi ke kelas setelah menghabiskan makanan mereka.

Di kelas, tampak Donny memantul-mantulkan bola basket ke lantai. Mimik wajahnya sinis menatap Anggi dan Indy yang muncul di depan pintu. Sontak Donny melempar bola basket yang ada digenggamannya ke wajah Anggi. Tentu saja Indy bingung di buatnya, kenapa tiba-tiba Donny melemparkan bola basket ke wajah Anggi. “AWW!” Anggi tak kuasa berkata-kata, mendapat “hadiah” dari Donny.

“Donny!, kamu apa-apaan sih!” ujar Indy ke Donny yang didahului dengan mata terbelalak dan mulut menganga. “ini semua salah teman kamu ini!, dia yang cari gara-gara duluan sama aku!” jelas Donny dengan mata melotot, napas memburu dan bibir terlipat!. Mendengar penjelasan dari Donny, Indy langsung mengedarkan pandangannya pada Anggi. “Gi!, ini sebenarnya ada apa?”. Anggi tak menggenahi pertanyaan Indy dan menghampiri Donny yang duduk di atas meja. “heh!, kan aku tadi udah bilang “SORRY!” ucap Anggi dengan menekanan kata sorry. Tanpa cas-cis-cus lagi, Anggi langsung memukul pipi Donny yang lebam karena pukulan Anggi pula kemarin, berkali-kali. Donny yang mendapat serangan dari Anggi, hanya bisa mengelak dan menyikut seraya berkata “kamu seharusnya tahu!, aku malu banget dipermalukan didepan umum kaya tadi!” Anggi tidak menggubris penjelasan Donny, dia terus memukul pipi Donny hingga babak belur. “aku, nggak ada maksud untuk mempermalukan kamu!.” Perkelahian Anggi kali ini tidak seramai kemarin karena hanya sebagian siswa yangt berada dikelas, sisanya masih ada di kantin atau tempat-tempat lain. Ditengah-tengah pergulatan mereka, datang Aris sebagai penengah. “wooi, sudah!, ngapain sih kalian kelahi!, balik sana ketempat kamu!” lerai Aris seraya mendorong Donny untuk balik ke tempat duduknya. “emang kamu nggak malu apa Don, kelahi sama cewek!.” Donny menuruti perintah Aris karena bel tanda habisnya waktu istirahat berbunyi. “awas kamu!.” Ancam Donny seraya menunjukkan tangannya ke Anggi. Anggi tidak menanggapi ancaman Donny, dan kembali ketempat duduknya dengan wajah cemberut dibarengi Indy.

“ aduh Anggi…, kamu ini trouble maker ya!” nggak sama teman-teman nggak sama guru, rubah sedikit coba sikap kamu itu!” nasehat Indy pada Anggi. “iya-iya aku rubah!, tapi itu kan gara-gara si Donny tuh! kamu liat sendiri kan? tadi waktu olahraga aku nubruk dia, tapi itu nggak sengaja, eh dia malah balas di kelas, dasar pengecut!” cerita Anggi masih dengan wajah cemberut. “eh, gimana kabarnya Jerry?.” Anggi mengganti topik pembicaraan. “nggak tahu tuh si Jerry, nggak SMS, nggak nelfon, dia kenapa sih? aku bingung sama dia kalo di SMS nggak dibalas, kalo nelfon nggak di angkat. apa dia punya orang lain?.” Cerita Indy dengan wajah masam tanpa melihat kearah Anggi. “eh Anggi, kamu mau nggak godain dia?, aku pengen tahu, dia itu masih setia apa nggak sama aku, nih aku kasih nomor plus fotonya,” seraya merobek kertas dengan kecil dan menuliskan nomor Jerry. “dan ini fotonya,” kemudian mengeluarkan dompet dan mengambil foto lelaki gagah yang terselip di dompetnya.lagian kan dia nggak kenal sama kamu, kamu bisa kan?” “oke nanti aku coba” ujar Anggi menyanggupi.

***

Di dalam kamar yang penuh dengan boneka yang tersusun rapi dan buku-buku yang berserakan. Tampak Anggi berbaring di tempat tidur sambil memegang HP-nya dengan gelisah. “gimana ya caranya?,” Anggi mengangkat HP-nya ketelinga dan berlagak seakan-akan sedang menghubungi Jerry. “hai, nama aku Anggi temannya Indy, Indy bilang dia mau tanya sama kamu, apa kamu masih setia apa nggak?. Loh, kok kaya gitu sih! Aduuh gimana nih..?!” wajahnya cemberut. “mm.., mendingan aku pura-pura salah sambung aja.” Kemudian ia bersiap-siap menghubungi. Tuuut …tuuut… tuuut…. “halo, bisa bicara dengan Farhan?,” kemudian terdengar suara diseberang sana. “Farhan?, Farhan siapa ya? disini Jerry.” “Jerry?, oh… maaf salah sambung,” “eit, eits tunggu dulu, kita belum kenalan, perkenalkan namaku Jerry, kamu?,” “na, namaku Anggi, salam kenal,” jawab Anggi terbata-bata. “kok kamu bisa salah sambung sih?,” “mm… so, sorry banget” aduh pake nanya-nanya segala lagi!” ucap Anggi dalam hati. “hahaha…kamu lucu banget!, jangan takut gitu dong…nggak papa lagi, aku juga sering salah sambung kaya kamu, ya gara-gara salah dua atau tiga nomor, tapi depannya udah betul. Hahaha” koar Jerry sok akrab. “ah..iya, hahaha.” Anggi berusaha mengimbangi. “aku pengen liat kamu, gimana kalo kita ketemuan besok di Mall jam lima sore, oke.. aku tunggu ya,” “eh, tunggu-tunggu!.” Belum sempat Anggi menyampaikan pesan Indy, hubungan sudah terputus.

***

Jerry menunggu dengan penampilan yang rapi. Ia memakai kemeja berwarna merah dan jeans biru yang membuat penampilanya terlihat gentle, ditambah lagi potongan rambutnya yang mengikuti model masa kini. “duuh, yang mana sih, yang namanya Anggi? Aku jadi penasaran.” Jerry, menunggu Anggi di depan pintu Mall, tak henti-hentinya Jerry melihat jam kulit yang melingkar ditangannya menunggu-nunggu Anggi yang belum tampak batang hidungnya. Di ujung jalan, Anggi mengintipi Jerry yang sedari tadi menunggunya di depan pintu mall. Anggi tampak cantik dengan t-shirt putih oblong, ia memakai aksesories kalung yang melingkar di lehernya dan cincin yang tersusun indah di jemarinya, ditambah lagi Anggi memakai celana jeans hitam ketat yang membuat penampilannya semakin cute. “nah, itu dia Jerry-nya, yes! Misiku berhasil, tenang aja In, aku bakalan nge-test dia, apa masih setia atau nggak.” Ucap Anggi bangga dibalik dinding besar yang ada di ujung jalan.

Anggi pun melangkah menghampiri Jerry dengan santai. “hai… kamu Jerry ya?, ini aku Anggi.” Seraya menjulurkan tangannya. “oh, hai… kamu Anggi ya, aku Jerry,” menyambut tangan Anggi. “mmm… sorry ya, udah nunggu lama,” pura-pura perhatian pada Jerry. “oh, nggak kok, kebetulan aku juga baru sampe, baruu… aja.” Jerry terpaksa berbohong untuk menunjukan bahwa dia cowok yang baik dimata Anggi. “mmm…masuk yuk,” ajak Jerry. Anggi mengangguk-anggukan kepalanya. Sesampai di dalam. “eh, kita makan dulu ya Gi, soalnya aku laper banget nih,” “iya deh.” Mereka memasuki salah satu tempat yang menjual makanan. Sesampai di sana mereka menduduki salah satu kursi kosong. “Anggi, aku pesan makanan dulu ya, oh iya, kamu mau pesan apa?,” “terserah kamu deh Jer…” Jerry pergi memesan makanan. Sambil menunggu makanan yang dipesan. Mereka mengobrol seputar sekolah, keluarga dan teman-teman mereka. Percakapan mereka terputus karena pesanan mereka datang diantarkan Pramusaji yang berpakaian rapi dan selalu menyunggingkan senyumnya yang sumbang. Setelah Pramusaji itu pergi, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka. Mereka menikmati hidangan mereka, sesekali Jerry mencuri-curi pandang ke Anggi. Hingga akhirnya….

“mmm… Gi, kamu udah punya pacar belum?” akhirnya Jerry berani mengutarakan maksudnya menemui Anggi. “uhuk!!! uhuk!!!,” Anggi terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Jerry. Dalam hati Anggi berkata “duuh, poor Indy, kenapa dia mesti punya cowok Playboy kaya Jerry.” Jerry yang melihat tingkah Anggi, menjadi khawatir akan terjadi apa-apa dengannya. “ka, kamu nggak papa Gi,” seraya membersihkan bibir dan dagu Anggi dengan tisu yang disediakan di depan meja mereka. Mendapat reaksi Jerry, Anggi jadi salah tingkah dibuatnya. “ah, enggak kok, aku nggak papa.” Hening beberapa saat, kemudian Jerry kembali menanyakan pertanyaannya lagi. “Gi, apa kamu udah punya pacar?.” Anggi terdiam sesaat, hatinya bergejolak, otaknya berputar tak menentu untuk merumuskan apa yang harus dia jawab. “mm… sebenarnya aku belum punya, emang kenapa?.” Tersirat rasa bahagia di wajah Jerry. “Anggi, aku suka sama kamu, kamu mau jadi pacarku?” pinta Jerry dengan romantisnya. lidah Anggi terasa kelu mendengar pernyataan Jerry kepalanya seakan berputar-putar.

Tetapi Jerry tetap saja menagih jawaban dari Anggi. “Gi, kamu mau?”. “ Sorry Jer, aku nggak bisa jawab sekarang. “oke deh, aku tunggu jawabanmu nanti malam.”

***

Di kamar Anggi, Anggi tak henti-hentinya memikirkan Indy dan Jerry. Indy-Jerry…Indy-Jerry. Ponsel Anggi berdering. Tertulis nama J3Rry di layar ponselnya. “aduh, aku mesti jawab apa dong?, kamu kasian banget In…” ponselnya berdering lagi, kali ini deringnya menandakan ada pesan yang masuk. Sekali lagi tertulis J3Rry di layar ponselnya. Anggi tak kuasa membaca pesan apa yang dikirimkan kepadanya.

***

Pagi ini Anggi sengaja pergi lebih cepat dari hari biasanya. Dalam perjalanannya Anggi tak henti-hentinya memikirkan sahabatnya itu. Sesampai di gerbang sekolah satpam yang biasanya selalu datang lebih cepat dari Anggi kini tidak mangkal di tempat biasanya. Dengan langkah gontai Anggi memasukinya. Batinnya berkata “duuh.. aku mesti ngomong apa nih sama Indy???, takutnya kalo aku bilang si Jerry nembak aku nanti Indy malah marah sama aku, Ya Tuhan….. bantu aku…….” Di dalam kelasnya kursi-kursi berada bukan pada tempatnya, dan papan tulis yang penuh coretan yang belum sempat dibersihkan oleh regu piket kemarin, ditambah lagi debu-debu yang bertebaran dimana-mana menambah keadaan kelas semakin kotor dan tidak sedap dipandang. Di kelas itu belum ada orang selain dia. Anggi menghampiri kursinya dan duduk dengan membenamkan wajahnya di lengan tangan yang dilipat. Waktu terasa berjalan dengan cepat, beberapa menit kemudian kelas dipenuhi oleh siswa yang datang untuk menimba ilmu. “hai Anggi…, gimana? misi kamu berhasil?” Indy datang membangunkan tidur ayam Anggi. Sejenak Anggi terkejut akan kedatangan Indy yang tak diduga-duga. Indy langsung duduk disamping Anggi. “mmm… begini Gi, kemarin aku udah godain dia, terus dianya….” Anggi memutus kalimatnya. Indy mengangguk-anggukan kepalanya ke Anggi tanda ia ingin mendengar cerita Anggi. “iya Gi, ayo cerita!” rasa ingin tahu Indy sudah dipuncak, Indy mengguncang-guncang bahu Anggi tanda tak sabar. “di… dia…, nembak aku,” Anggi mengatakannya dengan ragu. Mata Indy membelalak setelah mendengar penjelasan Anggi. “APA!!!, nembak kamu………!!!” dasar kamu cewek nggak bener!, aku nggak nyangka ya, sampai sejauh itu, kamu itu nggak tau diri! Dasar pagar makan tanaman!” dengan suara yang tinggi. “maksud kamu apa!” Anggi balas marah pada Indy seraya mendorong tubuh kurus Indy dengan kerasnya hingga jatuh menabrak kursi. “Indy!, kamu sendiri kan yang nyuruh aku untuk godain Jerry, kamu mau nge-test, dia itu setia apa nggak, trus aku bantuin kamu. Mana aku tahu kalo dia bisa nembak aku!” jelas Anggi berapi-api. “Gi, aku tuh sayang sama Jerry!, kenapa sih kamu tega banget sama aku!” ucapa Indy lirih.

***

Malam itu dikamarnya, Anggi gelisah dan marah besar, wajahnya masam, dipikirannya hanya ada Indy yang membuatnya marah besar. “Dasar Indy nggak tahu terima kasih! Udah dibantu, malah begitu balasnya” gerutu Anggi sambil mengutak-atik ponselnya. “Huh!, buat apa aku simpan nomor Indy, lebih baik aku hapus aja!” belum sempat Anggi menghapus nomor Indy, tiba-tiba ponselnya berdering, tertulis nama InDy dilayar ponselnya. “eh, ada SMS dari Indy?,mau ngapain lagi kamu In!, belum puaskah kamu ngatain aku pagar makan tanaman? aku udah nggak ada urusan lagi sama kamu!” kemudian Anggi membuka pesan dari Indy. “loh?, kok kosong?” berulang kali pesan kosong dari Indy masuk.

***

Hari ini kursi disamping Anggi kosong, tidak ada keterangan yang jelas tentang keberadaan Indy.

“Anggi, si Indy mana kok nggak masuk?” tanya Nina yang duduk di belakang Anggi.

“nggak tahu tuh, lagipula aku udah nggak peduli lagi sama dia,” “loh?, kok kamu gitu sih Gi?, lo marahan sama dia?” Nina memprediksi. “udah deh, kamu nggak usah sebut-sebut nama dia lagi, aku udah eneg tau dengernya!” jawabnya kasar. Penjelasan Anggi membuat Nina berkerut alis, ia mengetahui maksud dari nada bicara Anggi dan berhenti menanyakan perihal Indy. Hari-haripun dilalui tanpa kehadiran Indy disampingnya, terasa ada yang kurang tanpa kehadirannya. Seminggu sudah tidak ada kabar dari Indy, tidak ada yang tahu pasti bagaimana kabarnya sekarang. Pada saat jam pelajaran berlangsung Nina kembali menanyakan perihal Indy. “Anggi, sudah seminggu nggak ada kabar dari Indy, tolong certain, ada apa sebenarnya antara kamu sama Indy” bisik Nina. “kan udah aku bilang, aku nggak ada masalah apa-apa sama dia, palingan dia sakit” jawab Anggi kesal. “tapi kan biasanya kalo dia sakit selalu ada keterangan, kamu nggak coba nelfon atau SMS-in dia?,” “kamu aja sana!” jawab Anggi ketus. Nina pun mengikuti saran Anggi. Nina mencari nama Indy di phone book-nya dan menekan tombol call. Nina mengangkat ponselnya ketelinga, kepalanya menunduk ke laci meja, agar kegiatannya tidak diketahui oleh guru yang sedang menerangkan di depan kelas. “HP Indy nggak aktif. kembali Nina berbisik ditelinga Anggi. Tidak ada respon dari Anggi, Anggi sibuk mengecek catatannya. “si Anggi kenapa Nin?” Asti yang duduk dibelakang Nina menjadipenasaran dengan tingkah mereka tadi. Pertanyaan Asti hanya dijawab dengan menaikan bahu oleh Nina.

***

For my Dearest friend…

Anggi, kamu tega banget sama aku. Kenapa kamu rebut Jerry dari aku?. Kamu tahu Gi…, aku sayang banget sama dia. Ini semua memang salah aku. coba aja aku nggak suruh kamu untuk godain dia, ini semua nggak akan terjadi dan persahabatan kita akan langgeng di sisa waktuku ini. Kau tahu Gi?, hanya kamu tempat keluh kesahku. you’re the one who can I believe, you’re the nice people who I’m meet. You know… I need you here, you’re my guardiant angel.just you in my heart, you’re the lovely thing that I have.

Kamu ingat nggak Gi, waktu kita dihukum guru gara-gara nggak ngerjain PR. Ha..ha..ha… itu kali pertama aku dihukum di bangku SMA, aku juga nggak tahu. Kok bisa-bisanya aku lupa ngerjain, padahal PR itu udah lama banget dikasih. Dan dari satu kelas cuman kita aja yang nggak kerjain. Trus kita dihukum deh, berdiri didepan kelas. Semua anak tertawain kita. Aku malu banget waktu itu, tapi kayaknya kamu santai-santai aja. Waktu ditanya “Anggi, kamu udah kerjakan PR?, kamu dengan santainya menjawab “belum”. Trus ibunya marah besar. Matanya melotot, alisnya naik sebelah dan mukanya merah menahan marah.hahaha!!! kamu mestinya perhatikan baik-baik ekspresi ibunya. Lucu banget!

Tapi kenangan itu sebentar lagi akan berakhir. Hmm… andai saja, waktu bisa kuputar kembali, aku kan kembali ke masa itu dan akan kuhindari kesalahanku. Sayang… nasi sudah menjadi bubur, aku nggak akan sempat menemuimu lagi.

Your’s

Indy.

Siang di dalam mobil, Anggi mengedarkan pandangannya keluar jendela mobilnya, alisnya berkerut melihat Asti dan Sheila lonjak-lonjak dan mulut mereka komat-kamit seperti ingin memnyampaikan sesuatu. Tetapi ia tak mengerti maksud tingkah mereka itu, karenavolume musik dari tape yang ada di mobilnya sangat nyaring. “ada apa!” “Indy Gi!, si Indy!,” si Indy kenapa?, dia kenapa?” belum sempat pertanyaannya dijawab, mobil Anggi sudah meluncur meninggalkan halaman luar sekolah. Ia pun menghilang diujung jalan.

Di dalam mobil, kata-kata Asti dan Sheila masih terngiang ditelinganya. “ada apa gerangan dengan Indy?” batin Anggi.

***

“Anggi… lekas ganti baju terus makan siang, nanti mag mu kambuh lagi!” ibu Anggi menyambutnya kedatangannya. “ngak ma… Anggi masih kenyang, tadi habis makan di sekolah” sambil ngeloyor pergi ke kamarnya. Anggi istirahat sebentar di tempat tidurnya. Sesaat kemudian ia mengambil bola basket yang ada di bawah meja belajarnya. Dan pergi ke lapangan. Tidak ada orang lain di lapangan, ia menghabiskan waktu bermain basketnya seorang diri. Hanya Indy yang ada dikepalanya sekarang. Ditengah-tengah permainannya Nina datang dari balik tikungan. “Gi… !Anggi…!,” Nina berlari mendatangi Anggi. “ada apa Nin?” Nina terengah-engah, Indy Gi, Indy!, hah..ha…ha…” “si Indy kenapa Nin?” setelah mengatur napasnya Nina melanjutkan.

“Indy meninggal Gi…dan ini hari pemakamannya” ucap Nina hati-hati. Seperti disambar petir di siang hari, mulut Anggi menganga ia jatuh tersimpuh. Bola basket yang ada ditangannya terlepas seketika. Mulutnya bergumam “me…meninggal?” butiran air mata menitik dipipinya. “nggak! Ini nggak mungkin!” menggeleng-gelengkan kepalanya. “hahaha! kamu bohong kan Nin?” Anggi menghibur dirinya sendiri. Nina prihatin melihat Anggi yang seperti orang ling-lung, kemudian memeluk Anggi yang masih tersimpuh. “aku tahu, ini berat bagimu, tapi bukan kamu aja yang kehilangan Indy… aku, Sheila dan Asti pun juga merasa kehilangan, kita semua sayang sama dia. Air mata Nina pun tumpah seketika. “tapi, aku belum minta maaf sama dia Nin…, ini semua salah aku, aku yang buat dia pergi! Indy….” Isak tangis Anggi memilu hati. “sabar ya Gi…” seraya mengusap-usap bahu Anggi.

***

For my special person….

Indy… kenapa kamu pergi begitu cepat….

Ini berat bagiku.

Kamu liat aku disini? Aku hilang dan hampa…

Ini semua memang kesalahanku, seharusnya aku bicara baik-baik denganmu…

Seharusnya aku tidak gegabah….

Andai saja waktu itu aku nggak godain Jerry berlebihan, pasti Jerry juga tidak akan utarakan cintanya kepadaku…

Karena Jerry hanya pantas untukmu…

Aku memang nggak tahu di untung In…

Ya, kamu memang benar aku adalah “pagar makan tanaman”…

Aku memang tega membuatmu sakit….

Walaupun sudah terlambat, aku mohon kamu sudi untuk memaafkanku…

Dari seseorang yang pernah

menjadi karibmu

“Anggi Desmivta”

Hari ini cahaya matahari yang menghangatkan bumi terhalang oleh awan medung. Begitu pula suasana hati Anggi sekarang “mendung”. Semangat dan senyum Anggi yang hangat kini sirna sudah, tidak ada lagi cahaya mentari yang selalu bersinar dihatinya. Kini yang ada hanya awan hitam mendung berkabut.

Anggi memandang foto-foto Indy yang disimpan di folder khusus yang ada di ponselnya. Dengan cara itu, sudah cukup menghibur hatinya yang pilu. Sekilas ia memandang fotonya dengan Indy yang dipajangnya di atas meja belajarnya, kemudian tersenyum kecut. “kamu ingat nggak In, waktu kamu nasehatin aku untuk jadi cewek yang baik?, kamu ingat kan? Hahaha!” Anggi tertawa diselingi buliran air mata yang meluncur lurus di pipinya. “waktu itu kamu maksa banget, kamu marah-marah sama aku…, trus kamu bilangin aku trouble maker, hahaha! ya, kamu emang benar In, kamu nggak pernah salah!.” Air mata Anggi tambah deras mengucur. Nada suaranya pun semakin tinggi dari satu kalimat ke kalimat berikutnya. “aku emang trouble maker! Aku adalah biang masalah, dimana ada masalah itu pasti ulah aku!. Haha! Untung aja aku punya sahabat kaya kamu. Karena hanya kamu yang sabar ngadapin aku! Mamaku aja kadang kewalahan meng-handle ku. Tapi kamu….

Kamu bukan hanya sekedar sahabat bagiku. Dikala aku menghadapi masalah kamu menjadi seorang kakak, dikala aku buta arah, kamu menjadi pelita yang menerangiku, dan dikala aku butuh rasa sayang, kamu menjadi seorang ibu bagiku. Tapi sekarang…. Siapa lagi yang akan menjadi pelitaku? Siapa lagi yang mejadi tongkatku?. Cuma kamu In…… Cuma kamu……Cuma kamu…..

***

Anggi sendiri dikamarnya, ditengah kesendiriannya tiba-tiba ada yang memecah kesunyiannya.

“selamat sore” terdengar suara perempuan yg lirih dari arah depan pintu rumah Anggi. Hati Anggi bertanya-tanya, tamu siapa yg memecah lamunannya barusan. Anggi keluar dari kamarnya, dan membuka kenop pintu depan rumah yg tadinya terkunci. Wajah itu tak asing lagi adalah Mama Indy, matanya sembab dan hidungnya merah, masih tersisa rasa sedih diwajah wanita itu. Wanita tua itu merogoh isi tasnya dan mengambil secarik amplop berpita Jingga-warna kesukaan Indy, dan menyodorkannya ke arah Anggi seraya berkata “kamu sudah tau kan?”

***

Untuk Anggiku sayang…

Anggi, setelah kamu terima surat ini, mungkin aku sudah nggak ada.

Izinkan aku mengucapkan pesanku yg terakhir untuk kamu,

Anggi, aku pinta, kamu jangan suka berantem yah…. Aku nggak suka ngeliat kamu begitu, nggak sesuai dengan sifatmu yg lembut. Walaupun luarnya kasar, tapi aku tahu hatimu begitu baik dan tulus, aku suka itu.

Aku minta maaf Gi, kalo selama ini aku merahasiakan semuanya kepadamu, aku Cuman mau jadi gadis yg normal, aku nggak mau dibeda-bedakan. Sejak kecil aku sudah sakit-sakitan, kata mamaku, jantung bilik kiriku bolong, jadinya aku mesti cuci darah tiap bulan. Aku cuman mau jadi gadis yg normal, itu saja. Bukan seorang gadis yg selalu dikelilingi jarum suntik dan obat-obatan. aku minta maaf Gi, aku sudah bilangin kamu yg macem-macem, aku memang egois dan tak tahu terima kasih. Sorry banget ya Gi. Satu hal yg harus kamu ingat, kamu adalah sahabatku, aku sayang kamu dan kamu akan selalu ada dihatiku.

Kamu ingat janji kita kan, “sahabat sejati selalu ada dihati, sahabat sejati adalah saling melengkapi satu sama lain, tak’kan pernah terlupa, sahabat sejati adalah belahan jiwa dan orang kedua dari pribadi masing-masing, tak’kan pernah berakhir dan terpisah hingga takdir yg memanggil salah satu antara kita”

Yours truly,

Indy Maharani

Anggi hanya bisa duduk tersimpuh dan bercucuran air mata, Anggi tak peduli lagi dengan semuanya. Anggi hanya bisa tertunduk seraya menempelkan surat beramplop jingga itu didadanya yg naik turun mengikuti isakan tangisnya.

***

Tiga bulan kemudian…..

Kericuhan kembali terjadi, Anggi yg baru kembali dari kantin menjadi tertarik dengan keonaran tersebut. Sambil memicingkan mata dari kejauhan, beberapa detik kemudian ia tersenyum sinis. rupanya ia sudah mengetahui apa yg telah berlaku disana.

pasti mereka berantem…

Penerima Beasiswa BPSDM Diumumkan di Media Cetak

Author: widya  //  Category: berita

BALIKPAPAN-Badan Peningkatan Sumber Daya Manusia (BPSDM) saat ini tengah menyeleksi para pendaftar program beasiswa berprestasi. Dari 800 kuota yang sebelumnya ditetapkan, ternyata jumlah pendaftar melebihi kuota.

“Jumlah pendaftarnya 882 peserta, padahal kuotanya hanya 882 penerima beasiswa berprestasi,” terang Ketua BPSDM, H Misbahuddin Halim saat ditemui Metro di kantor Badan Amil Zakat (BAZ), Rabu (27/8) kemarin.

Dikataka, para pelajar dan mahasiswa yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa tidak usah khawatir, pasalnya kemungkinan besar akan mendapatkan beasiswa. “Sebab yang mendaftarkan untuk beasiswa rata-rata merupakan pelajar maupun mahasiswa berprestasi,” tambahnya seraya mengatakan, pengumuman akan diketahui setelah mengunggu surat keputusan Wali Kota Balikpapan dan akan diketahui melalui media cetak dan September para pendaftar beasiswa akan mendapat dananya.

Ia mengatakan, dari program beasiswa ini, Balikpapan akan memiliki masyarakat yang berprestasi sehingga ia mengharapkan para pendaftar yang mendapatkan beasiswa dapat mempertahankan prestasinya.

Adapun syarat utama bagi mahasiswa agar bisa mendaftar dan mengikuti seleksi beasiswa berprestasi diantaranya IP semester untuk eksakta 3,00, non eksakta 3,25. Sedangkan pelajar SD, SMP dan SMA, nilai minimal per mata pelajaran 7 di kelas terakhir.

Misbahuddin menerangkan, tujuan Pemkot memberikan beasiswa bagi siswa maupun mahasiswa, untuk memotivasi para pelajar agar lebih giat meningkatkan prestasinya sesuai dengan tujuan BPSDM dalam pengembangan sumber daya manusia. Di Balikpapan sendiri, konsep peningkatan kualitas SDM diarahkan pada 20 persen pemikir, high skill 30 persen, middle skill 30 persen, serta low skill 20 persen. “Sampai dengan sekarang total jumlah angkatan penerima program beasiswa berprestasi BPSDM mulai angkatan I sampai VI mencapai 3.800 orang,” pungkasnya.(aya)

sumber: www.metrobalikpapan.co.id

SMPN 8 Lolos Verifikasi Sekolah Standar Nasional

Author: widya  //  Category: Uncategorized, berita

BALIKPAPAN—Sempat dipandang sebelah mata, Tahun 2008 ini SMP Negeri 8 Manggar Baru, sudah mendapat formulir dari Dirjen Pendidikan Menengah (Dikmen) dan sedang dalam tahap proses Sekolah Standar Nasional (SSN).

Sekolah di kawasan pinggiran ini, ingin membuktikan eksistensi dan kualitasnya, juga bisa disejajarkan dengan sekolah negeri lainnya di Balikpapan.

Menurut Waka SMP Negeri 8, Suprapto SPd, pihaknya optimis meraih sertifikat SSN itu. menurutnya, SMPN 8 mampu memenuhi syarat ketentuan yang berlaku. Misalnya, harus memiliki lahan minimal 7000 meter persegi. Sementara SMPN 8, memiliki luas areal 20.000 meter persegi.

“Fasilitas mendekati sempurna, karena aula segera kita bangun. Nim siswa, outputnya tiga tahun ini meningkat,” sebutnya menjawab Metro di SMPN 8, Selasa (26/8) lalu.

Adapun penilaian mencakup sistem kurikulum, administrasi, sarana dan prasarana sekolah dan tenaga kependidikan. Pemilik sapaan akrab Prapto ini berkata, sekolah telah berupaya meningkatkan SDM Guru, sarana dan prasarana. untuk kualifikasi guru, lanjutnya, telah diikutsertakan dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) baik tingkat sekolah maupun tingkat kota.

“Di sini, pengajarnya 40 orang, enam di antaranya sudah sertifikasi dan saat ini tiga lagi proses. Untuk komputer terdapat 30 unit dengan lima di antaranya difasilitasi internet yang diletakkan di ruang perpustakan,” ujarnya. Sikap optimis ini cukup beralasan. Pasalnya, pertengahan Agustus lalu, SMPN 8 lolos verifikasi, sehingga dipanggil Dirjen Dikmen mengikuti workshop di Makassar, guna membahas Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). Mulai dari Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), program jadwal sekolah mulai jangka pendek hingga jangka panjang.

“Keberhasilan ini juga berkat kerjasama para guru yang berjuang keras, baik dalam memberikan pelajaran maupun kemampuan. Seperti tahun lalu, kami berhasil meraih juara satu lomba sekolah sehat. Siswa kita juga telah masuk 10 besar dalam olimpiade matematika,” tutur Prapto sembari menambahkan baru-baru ini SMP 8 telah menelurkan seorang siswa yang berhasil meraih posisi jawara dalam lomba roket air, belum lama ini.(bm-7)
Sumber: www.metrobalikpapan.co.id

Dewan Industri Balikpapan Dikukuhkan

Author: widya  //  Category: berita

BALIKPAPAN–Upaya mewujudkan Balikpapan sebagai kota vokasi (menyediakan banyak pendidikan kejuruan) tidak semata dilakukan melalui pembangunan sekolah kejuruan dan pengembangan Politeknik Balikpapan (Poltekba). Kota vokasi membutuhkan adanya sinergi antara lulusan yang dihasilkan sekolah maupun perguruan tinggi dengan dunia kerja yang akan menyerapnya. Guna mewujudkan sinergi itu, pada Rabu (27/8) di balaikota, dikukuhkanlah Dewan Industri oleh Wali Kota H Imdaad Hamid SE.

“Peranan dunia usaha sangat penting untuk memajukan pendidikan di kota Balikpapan,” kata Imdaad kepada para pengurus Dewan Industri.

Sejumlah pejabat di lingkungan Pemkot Balikpapan tampak hadir dalam acara pengukuhan kemarin. Mereka yang menjadi anggota Dewan Industri adalah para pelaku sektor industri, perdagangan, perhotelan, perbankan sehingga seluruh ilmu yang mereka miliki bisa diajarkan kepada siswa di kota Balikpapan.

“Tugas pengusaha di kota Balikpapan hanya dua yaitu mencari untung sebanyak-banyaknya dan membayar pajak. Adapun sisanya para pengusaha bisa meluangkan waktunya untuk membangun masyarakat dan memajukan dunia pendidikan,” ujar wali kota.

Dalam otonomi daerah di bidang pendidikan, Imdaad menyebut, pihak industri bisa menentukan materi dan program apa yang akan diberikan ke dunia pendidikan. Sehingga dengan pembentukan Dewan Industri ini bisa membantu dunia pendidikan dalam mencetak tenaga-tenaga terampil yang bisa dipakai di dunia industri.

“Ibaratnya apa yang dibutuhkan oleh industri, Balikpapan siap menyediakan tenaganya,” ujar Wali Kota Imdaad. Untuk pembangunan kedepan, Kota Balikpapan akan banyak terfokus pada pengembangan industri. Apalagi dengan adanya pengembangan Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang memiliki luas 2.000 hektare lebih akan membutuhkan tenaga kerja sebanyak 25.000 lebih. Maka disinilah, ungkap Imdaad, peranan dunia pendidikan di kota Balikpapan yang dituntut harus bisa menyiapkan tenaga siap pakai yang berasal dari masyarakat Balikpapan. Dengan direkrutnya masyarakat Balikpapan, maka rasa tanggung jawabnya sangat besar untuk memajukan kota ini dan juga uang yang dikeluarkan juga digunakan untuk memajukan Balikpapan.

Sementara saat ditemui usai pengukuhan Ketua Umum Dewan Industri, Ir H Parto Hadisantoso menyatakan siap menjalankan tugasnya untuk memajukan pendidikan di kota Beriman. Begitu juga para pengurus Dewan Industri yang berasal dari berbagai profesi akan siap menyusun berbagai kurikulum dan program yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan di kota Balikpapan sehingga bisa mencetak tenaga terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan industri yang ada di kota Balikpapan.

“Nantinya akan ada program khusus untuk SMK misalkan untuk program konstruksi, perdagangan melalui magang di perbankan, begitu pula perhotelan,” terang dia mengenai gambaran program kerja Dewan Industri.

Selain itu, tambah dia, lembaga yang dipimpinnya akan mengupdate data kebutuhan tenaga kerja untuk kebutuhan industri yang sedang berkembang di Balikpapan. Sehingga antara dunia pendidikan akan menjadi jembatan bagi dunia industri.(are) 
Sumber: www.metrobalikpapan.co.id

puisi ‘GAMBAR’

Author: raydust  //  Category: Uncategorized, puisi

Apa
Yang kau gambar
Apa
Arti gambar
Apa
Sebuah gambar
Apa
Semua gambar
Apa
Itu gambar

Dimana gambar
Meminta
Dimana gambar
Mencaci
Dimana gambar
Mencari
Dimana gambar
Menghakimi

Satu gambar
Sahabat
Satu gambar
Isi hati
Satu gambar
kehidupan
Satu gambar
Jiwa

By: Deta Serviam Ray Dust

 

 

 

 

 

cerpen ‘Lukisanku Dibawa Orang Mati’

Author: haridoyo  //  Category: cerpen

Kumpulan anak-anak semakin banyak, semakin larut jumlahnya akan bertambah banyak, api unggun juga sudah mulai dinyalakan, angin malam menusuk tubuhku, ujung jari kakiku rasanya beku, maklum, pada acara puncak seperti itu semua peserta yang hadir dilarang memakai alas kaki. Sesekali jemari kaki ku rendam dalam pasir untuk mengurangi dinginnya malam.

Angin pantai yang beritup membuat api unggun bergoyang laksana penari Bali yang lemah gemulai. Petikan gitar dari tangan Rafi mengalun sendu, mereka mengelilingi api unggun dengan lagu Cahaya dari Letto. Tak lama berselang sebuah lagu “aku dan dirimu” dari ari lasso dan citra bunga citra lestari membuat malam itu semakin syahdu.

Seorang lelaki setengah baya mendekati kerumunan anak-anak dan mulai berkata. “Baiklah adik-adik, sudah cukup pengisi waktunya, kita akan segera masuk pada inti acara,” katanya.

Itu adala Kak Farhan Pembina Osis dari SMAN Negeri I yang kebetulan menjadi ketua panitia dalam acara renungan malam pada tahun ini. Renungan malam adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Osis dari seluruh sekolah SMA Negeri yang ada di Balikpapan. Lokasinya tidak selalu sama, dan kebetulan sekarang berada didaerah Kariangau. Pesertanya adalah Ketua Osis sekolah yang bersangkutan, termasuk wakil dan seksi-seksinya. Setiap sekolah minimal mengirimkan 5 sampai 10 orang untuk diikutkan dalam acara tahunan ini.

Dan kebetulan tahun ini penyelenggaraan itu dipusatkan di daerah Kariangau dekat hutan Bakau. Namun dari lokasi yang ada di sana ada sebuah pantai yang indah dengan pasir putihnya yang bagus. Tak banyak orang yang mengetahui keadaan itu kecuali beberapa pecinta lingkungan.

Lokasi masuknya juga cukup sulit. Bus sekolah yang membawa mereka harus masuk lewat KM 13 Balikpapan kearah Barat. Sekitar 5 km jaraknya dari jalan Raya, dan untuk menuju lokasi mereka harus menempuh jalan kaki selama kurang lebih 1.5 jam melewati semak belukar, hutan bakau dan berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Wain.

“Baik, kepada ketua Osis dari seluruh Sekolah silahkan mengambil undian yang telah disediakan, dan acara permainan ini akan segera dimulai,”

Seperti tahun sebelumnya acara yang paling menarik adalah pemaparan program dari masing-masing ketua Osis. Dan program osis yang paling bagus dan menarik itulah yang akan ditetapkan menjadi komando dari seluruh kegiatan Osis bagi anak-anak SMA se-Balikpapan.

Undian pertama jatuh pada Ketua Osis dari SMAN 8, Nurdin yang menjadi ketua osis langsung berdiri de tengah lingkaran orang. “Di tahun depan Osis kami akan melakukan proram tukar pelajar dengan sekolah SMA I Banjarmasin,” kata Nurdin memulai pemaparannya. Panjang lebar Nurdin menjelaskan programnya dalam satu tahun kedepan. Ada 10 orang siswa dari SMAN 8 akan dikirim ke Banjarmasin untuk mempelari sistim ekskul disana. Dan sebaliknya anak dari SMA Banjarmasin akan datang ke Balikpapan untuk melihat dari dekar perkembangan SMA 8 yang baru berusia 4 tahun itu.

Semua ketua osis memaparkan program-programnya dalam satu tahun kedepan. Dari SMA I lewat ketua Osisnya Dani memaparkan penghijauan, Amanda ketua Osis SMAN 2 tentang Program Seni dan Budaya, SMAN 7 tentang peningkatan Ekskul begitu juga dengan sekolah lainnya. “Nah, sekarang giliran Linda Ketua Osis dari SMAN 6,” Aku terkejut, dan aku baru sadar kalau sudah tiba giliranku, dengan perlahan aku berdiri dan berada ditengah-tengah yang hadir. Awalnya aku memamarkan dengan lancar, rasanya kata-kataku mengalir begitu saja, sesekali peserta yang hadir memberikan tepuk tangan, aku semakin bersemangat.

Ketika aku lagi asyik memaparkan program SMAN 6 satu tahun kedepan, aku melihat keganjilan, diantara kerumunan anak-anak berdiri seorang wanita setengah baya. Ia memakai gaun warna kuning dengan kombinasi bunga berwarna merah dan biru, rambutnya sebahu, wajahnya sangat cantik. Aku sempat berpikir mungkinkan wanita itu adalah guru dari salah satu sekolah yang ikut.

Sebab kalau siswa tidak mungkin karena umurnya sekitar 35 tahun, tapi ketika dibus sekolah tadi siang aku tidak sempat melihat, bahkan ketika berkumpul untuk mengisi absent aku juga tidak melihatnya. Ah mungkin saja dia datang terlambat. Aku mencoba untuk melanjutnya orasiku, namun pandangan wanita itu sungguh menggaggu, sepertinya ia tidak lepas memperhatikanku, seolah-olah ia tertuju kepadaku.

Kemudian bibirnya tersenyum dan mengeluarkan kata-kata. Aku tidak mendengar jaraknya cukup jauh, ia mencoba mengeluarkan kata-kata lagi aku juga tidak mengdengar, mungkin suaranya lenyap dibawan angin laut. Tangannya melambai, seakan menyuruhku mendekat, aku mencoba untuk tidak memperhatikannya, namun rasanya pandangannya itu sangat kuat. Ia melambaikan tangan lagi, tanpa ku sadari kakiku melangkah, ingin aku menahan namun tidak bisa, sedikit demi sedikit kakiku mendekati, dan ketika sampai disekatnya tanpa basa-basi ia langsung memegang tanganku.

Ah,.. dingin sekali tangannya, dari dekat aku melihat dengan jelas wajahnya. Aku melihat kecantikan yang luar biasa, bibirnya mungil, hidungnya yang mancung, rambutnya yang tergerai sebahu nampak sempurnya, tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, kecuali hanya senyum dia masih terus melihat kerahku, ketika ia menarik tanganku aku seperti diterpa angin cukup besar, debu pasir seakan menyapu wajahku, aku mencoba memejamkam mata takut mataku terkena debu. Dan ketika angin itu berhenti aku membuka mataku dan betapa terkejutnya aku ketika sudah berada ditempat lain. Aku tidak melihat lagi kerumunan anak-anak, api unggun juga tidak, semuanya lenyap. Angin malam yang menerpa tubuhku juga ikut lenyap, gelapnya malam berubah menjadi terang, didepan aku melihat sebuah rumah sangat besar, tamannya sangat luas, dari bentuk bangunanya memang terasa asing bagiku, aku tidak pernah melihat bangunan semegah itu, dan lagi arsiteknya juga belum pernah kulihat, sepintas lalu mirip bangunan kuno, namun kalau diperhatikan dengan seksama bangunan itu mirip Masjid. Aku melihat banyak orang didalam. Suarana ramai bersenda gurau, ada banyak makanan dan minuman yang lezat.

Wanita disampingku itu mengajakku mendekati bangunan itu. Namun tidak masuk.

“Aku hanya dibatasi sampai disini, aku tidak boleh masuk”

“Memangnya kenapa, “ tanyaku penasaran.

“Nanti kamu juga akan tahu,”.

“Siapa mereka dan mengapa ibu ada disini,”

“Dulunya aku penghuni disana juga, bersama mereka, memakan makanan yang sama meminum minuman yang sama, namun sekarang aku tidak bisa,”

“Mengapa Bu,”kataku penasaran.

“Semua makanan dan minuman itu adalah kiriman, aku tidak mendapat kiriman lagi, jadi aku tidak bisa bersama mereka lagi, bahkan masuk rumah itu saja aku tidak bisa,”

Ya aku menyadari bahwa dari tadi aku dan ibu itu hanya berdiri didepan pagar tidak masuk, aku penasaran ingin rasanya aku melihat aktifitas dari dekat tentang rumah didepanku itu. Aku mencoba melangkah memasuki pintu. Namun anehnya aku tidak bisa. Aku merasa ada gelombang didepanku yang menahan kakiku. Semakin aku mencoba melangkah semakin kuat gelombang itu menahanku.

“Kamu belum waktunya ke rumah itu,” katanya.

“Maksudnya apa Bu,”kataku lagi. Ibu itu tidak menjawab kecuali senyum saja.

“Ayo ikut aku lagi,” ibu itu terus mengajakku berkeliling rumah dengan hiasan taman yang sangat indah. Tapi mataku terus terpaku kepada kerumunan orang yang ada di dalam rumah itu. Mereka masih makan dengan lahapnya, dan ketika makanan mereka habis maka makanan itu tiba-tiba tersedia dimeja maka, dan begitu seterusnya. Diujung rumah paling belakang ada sebuah gubuk dengan atap daun, Ibu itu mendekati, aku baru menyadari kalau ibu mengajakku ke gubuk itu.

“Ini tempat tinggalku sekarang, ayo masuk,” ini benar-benar gubuk, atapnya dari daun nipah, dindingnya terbuat dari daun ilalang. Sangat sederhana sekali, didalamnya terlihat sangat kotor. Aku enggan untuk masuk, kotor, dan rasanya eh…jijik, lantainya becek, banyak Lumpur disana sini. Tapi kembali aku tak bisa menahan langkahku. Kakiku seakan ada yang menggerakkan. Langkah demi langkah aku memasuki gubuk itu. Ada dua bangku didalam, aku duduk dekat pintu luar.

“Ini keadaanku sekarang,” katanya. Aku terdiam mencoba memahami, meski sebenarnya asku masih bingung dengan apa yang kuhadapi sekarang. Ingin rasanya aku secepatnya keluar, rasanya tak tahan, hawanya agak gerah, eh…panas kalau kelamaan. Ibu itu masih bercerita, aku mencoba untuk menutup telingaku, aku udah ngak tahan, tapi ketika mataku tertuju pada sebuah lukisan aku agak terkejut. Bukankah lukisan itu mirip….” Ya namanya Ajeng teman sekelasnya, satu bangku dengan kamu,” aku sungguh terkejut, serasa tak percaya mengapa lukisan ajeng itu ada padanya. Yang lebih mengejutkan lagi karena lukisan itu aku yang membuatnya. Ajeng orangnya cantik alim, sholatnya rajin, selain pandai disekolahku, dia termasuk anak yang menyenangkan. Karena kecantikannya itulah aku mencoba membuat lukisan wajahnya. Hanya untuk mengembangkan bakatku saja. Tapi bukankah lukisan itu masih ada padaku, belum aku kasihkan. Rencananya akan aku berikan pada Ulang Tahun Ajeng tiga hari lagi. Tapi kok…aku semakin penasaran. “Maaf sebelumnya, Aku sengaja meminjam lukisanmu,” katanya. Aku masih terdiam, sulit rasanya aku mengeluarkan kata-kata. “Ajeng itu anakku, dulu dia sering mengirimkan doa yang ditujukan untuk ibunya, Aku. Tapi belakangan kiriman itu tak pernah ada lagi,” katanya.

“Maksud itu,” kataku mulai curiga arah pembicaraannya. “Aku sudah mati tiga tahun lalu, dalam sebuah musibah, disinilah adalah kuburanku bersama dengan yang lain,” seperti disambar petir disiang bolong aku kaget bukan main, sesaat kemudian aku mulai merinding, jadi aku berbicara dengan hantu, kataku dalam hati. Hi..hii…takut jangan-jangan. Ah..pikiranku udah mulai macam-macam.

“Aku hanya minta tolong sampaikan sama Ajeng kirimannya jangan pernah diputus, ya,” itu mungkin kata-kata terakhir yang aku dengar, selnajutnya aku tak ingat apa, aku benar-benar shok, merinding takut luar biasa. Aku merasa bahwa aku bukan berada di alam dunia. Semuanya terasa gelap, lelap. “Linda bangun, kamu udah siuman ya,” aku melihat Ajeng berada tepat disampingku. “Aku kenapa, ada dimana ini, trus kenapa kamu berada disini,” kataku. “Kamu ada di Rumah Sakit Restu Ibu, kamu pingsan dua ketika ikut Renungan Malam di Kariangau, kamu ngak ingat,” ah..kataku. “Tapi anehnya selama kamu ngak sadar kamu megang kertas dan ngak bisa dilepas. Banyak orang berusaha mengambil tapi ngak ada yang bisa, memang kenapa kamu, trus kertas itu kertas apaan.” Kata Ajeng. Aku melihat gulungan kertas ditangan kananku, lho ini kan lukisan Ajeng yang kubuat. Aku menceritakan pengalamanku selama mengikuti Renungan Malam itu kepada Ajeng. Aku menceritakan semuanya tanpa ada sedikit yang tersisa. Ajeng menangis, ia merasa bersalah kepada Ibunya. “Ibuku meninggal dengan cara misterius, aku sendiri tak tahu dimana kuburannya, maaf Linda aku ngak pernah cerita sama kamu, aku hanya dengar kabar bahwa ibuku meninggal setelah disiksa oleh penculiknya. Ayahku ngak mau memberikan tebusan, aku sendiri ngak mengerti permasalahannya mengapa ibuku terlibathal serumit itu.” Kata Ajeng bercerita dengan air mata.

“Aku hanya selalu mendoakan ibu siang malam, setiap sholat wardhu, dan setiap ada kesempatan, tapi belakangan aku jarang mendoakan ibuku lagi, aku menyibukkan diri dengan sekolah, les, ekskul, aku tahu aku sangat bersalah,” Ajeng menangis sesunggukan. “Maafkan aku ibu, mulai saat ini aku akan selalu mendoakanmu kembali,”

“Makasih ya, Linda karena kamu aku jadi terbuka hati,” katanya. Aku baru menyadari ternyata Doa anak kepada orang tua memang nyata, terbukti, terutama ketika orang tua sudah meninggal. Aku jadi mengerti. ‘Disinilah aku bertemu dengan ibumu,”kataku menunjukkan tempat itu kepada Ajeng. Ya..Ajeng memksaku kembali ke Kariangau, meski aku sudah merasa ketakutan, namun karena persahabatan dengan aku menyetujui. “Mungkin memang disini kuburan ibuku, aku juga baru dengar kalau yang di kubur disini bukan hanya ibuku tapi semua korban penculikan itu,”. ***(hidy)

puisi ‘lukisan ke dua puluh tiga’

Author: haridoyo  //  Category: puisi

Dua puluh tiga lukisan

Jiwa dalam Belahan Jiwa

Membentuk dua tiga sisi

Dalam paduan diam

 

Dua puluh tiga lukisan

Yang diam

Dua puluh tiga selir warna

Mendiami laut tenang

Di dua puluh tiga lintang selatan

 

Dua puluh tiga lukisan

Aksara senyum Jiwa

Membelah makna

Belahan Jiwa dan Belahan Jiwa ke Dua nya

Merobek seluruh Jiwa di dunia

 

Belahan Jiwa berbicara

Dalam lukisan ke dua puluh tiga

 

By. Deta Serviam Ray Dust

TRISAKTI

 

puisi ‘yang ke seribu’

Author: haridoyo  //  Category: puisi

Nirak yang ke seribu

Dalam angka 1000

Nirak melagu dalam labuh

Yang ke seribu

Laut biru

By.Taya

Fakultas seni rupa & desan

TRISAKTI

puisi “orang asing”

Author: haridoyo  //  Category: puisi

ORANG ASING

Hidup ini lengang

Bagai tak nampak

Di jalan setapak

Orang asing

Bagian dari kehidupan

Antara diterima dan ditendang

Terkatung dengan apa yang dimilikinya

Tersohor dengan apa yang dipunya

Orang asing

Melagu di kehidupan

Antara saudara

Antara senyawa

Antara nyata dan maya

By:Taya

fakultas seni rupa & desain TRISAKTI

Seseorang berkata “jangan berhenti melukis !”

Author: haridoyo  //  Category: puisi

Kepada :
AKU

Akui
Tidak ada kebahagiaan yang abadi
Melukis
Bukan karna

Aku
Namun
Jiwa ku

Dari jari kecil
Dengan kanvas bekas

Keluar
Keluarkan semua
Seperti muntah

Muntah busuk
Bau menusuk rusuk

Dan
Rapuh
Dalam tulang
Tulang rentan

Dikehidupan

by:tuced